by

Kisah dr Lie Dharmawan, Jual Rumah Demi Bangun RS Gratis Di Atas Kapal

-Berita-329 views

WATANABEEE“Kalau jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapapun tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras”

Petuah sang ibu ini sepertinya sangat tertanam dalam benak dr Lie Dharmawan, seorang dokter ahli bedah toraks, jantung dan pembuluh darah yang juga merupakan pendiri Rumah Sakit Apung (RSA).

Rumah Sakit Apung adalah Rumah Sakit diatas Kapal yang berkeliling ke pelosok-pelosok penjuru Nusantara, untuk mengobati warga miskin yang tak memiliki akses pada pelayanan medis.

dr Lie bersama timnya memberikan pelayanan medis bagi warga di atas kapal yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Meski terlihat sederhana dengan bahan utama kapal dari kayu, rumah sakit apung ini sudah berhasil membantu ribuan orang di Timur Indonesia.

Kapal ini bahkan bisa melayani operasi di lambung kapal. Pasien pun tak perlu mengeluarkan biaya karena berobat di rumah sakit apung ini gratis bagi siapa saja.

Ide membuat rumah sakit apung didapatkan dr Lie saat tengah melakukan pelayanan medis gratis di Langgur, Kei Kecil, Maluku Utara di tahun 2009.

Saat itu, ada seorang ibu yang mendatanginya dengan membawa anak perempuannya dalam keadaan usus terjepit. Keduanya telah berlayar selama 3 hari 2 malam. Beruntung, anak perempuan berusia 9 tahun tersebut berhasil dioperasi dan sembuh.

Kejadian ini lah yang membuat dr Lie ingin bisa menjangkau lebih banyak orang dengan mendirikan rumah sakit apung.

“Prinsipnya kalau mereka tidak bisa kemari, kenapa bukan kami yang ke sana” tutur Dr Lie.

Sayangnya ide mendirikan rumah sakit apung ini sempat dicemooh oleh rekan seprofesi dr Lie, yang bahkan menyebutnya sebagai ‘dr gila’.

Rekan-rekannya percaya tidak mungkin bisa mendirikan rumah sakit apung karena butuh biaya yang sangat besar.

Namun hal itu tidak menyurutkan niat dr Lie.

Dengan modal uang dari hasil menjual rumahnya, dr Lie lalu membeli kapal pinisi bekas pengangkut semen untuk membangun rumah sakit apung.

Kapal itu tergolong kecil. Hanya berukuran panjang 23,5 m, lebar 6,55 m dan bobot mati 114 ton. Kapal terbagi atas tiga dek.

Dek atas untuk nakhoda dan tempat para relawan, dek tengah berisi ruangan steril dan ruang operasi, sedangkan dek bawah adalah laboratorium.

“Kapal saat itu memang kecil Bahkan mungkin rumah sakit apung terkecil di dunia. Tapi semangat kebaikannya begitu menggebu” ujar Lie.

Saat ini, dr Lie bersama dengan yayasan Doctor Share telah memiliki tiga Rumah Sakit Apung,

Yang pertama bernama RSA dr Lie Dharmawan founder Doctor Share, RSA kedua bernama Nusa Waluya I dan RSA Ketiga bernama Nusa Waluya II.

Khusus untuk Nusa Waluya II, adalah RSA pertama yang berada diatas kapal tongkang.

Kapal itu dimodifikasi dengan diletakan beberapa kontainer sebagai ruangan rawat pasien. Sementara di lambung kapal tersebut terlihat logo Doctor Share beserta lambang palang merah Indonesia.

Di balik kesuksesannya saat ini, ternyata dokter asal Kota Padang, Sumatra Barat ini pernah mengalami pengalaman pahit saat masih kecil.

Keinginannya untuk menjadi dokter muncul karena Ia harus kehilangan adiknya yang meninggal akibat disentri karena minimnya akses kesehatan di Sumatra pada saat itu.

Ia pun sempat ditertawakan oleh teman-temannya karena dianggap memiliki cita-cita yang tak realistis dengan kondisi keuangannya.

dr Lie saat itu harus berjuang mengejar impiannya, sekaligus bekerja untuk membantu sang ibu menghidupi adik-adiknya, setelah ayahnya meninggal dunia.

Perjalanan dr Lie untuk menempuh pendidikan dokternya bukan hal mudah.

Saat lulus SMA, Ia berkali-kali mendaftar ke fakultas kedokteran yang ada di Pulau Jawa, namun tak pernah diterima.

Ia akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Res Publica (URECA) yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Trisaksi, namun harus berhenti karena kampusnya dihancurkan massa setelah situasi politik yang cukup memanas kala itu.

Ia pun memutuskan pergi ke Jerman untuk bersekolah, dengan uang yang Ia kumpulkan dari kerja serabutan. Diterima di Fakultas Kedokteran Free University di Berlin Barat.

dr Lie harus bekerja sebagai kuli bongkar muat barang dan juga bekerja di panti jompo untuk membiayai kuliahnya dan sekolah adik-adiknya.

Setelah 10 tahun, akhirnya dr Lie berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar Ph.D di Free University Berlin.

Ia berhasil lulus empat spesialisasi, yaitu ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung, dan ahli bedah pembuluh darah.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, dr Lie pulang ke Tanah Air bersama istri dan anaknya. Ia bertekad mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan.

Di tahun 2009, Ia mendirikan doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada pelayanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan.

Sumber :
https://aceh.tribunnews.com/amp/2018/10/24/dr-lie-dharmawan-bangun-rumah-sakit-apung-demi-mewujudkan-pesan-ibu?page=2

https://m.merdeka.com/sumut/bikin-rumah-sakit-apung-dokter-ini-jangkau-pasien-pelosok-dengan-pengobatan-gratis.html?page=all

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed