by

Cerita Wahyuningsih, Korban Gempa Bumi yang Bangkit Dengan Usaha Kain Perca

-Berita-236 views

WATANABEEE – Wajahnya terus saja tersenyum saat menceritakan kisah hidupnya setelah gempa 27 Mei 2006.

Wayuningsih namanya, dia menjadi penyandang disabilitas karena tertimpa almari dan tembok rumahnya.

Waktu itu dirinya baru hamil delapan bulan anak ketiganya. Namun dia cukup beruntung janin yang dikandungnya masih kuat.

Sebelum bencana itu, dia memiliki pekerjaan sebagai penjahit pakaian dalam di salah satu pabrik di daerah Ring Road Selatan Jogja.

Meskipun gaji tidak begitu besar, namun bisa untuk membantu suaminya.

Setelah gempa dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa bergantung di atas kursi roda.

Bahkan dua tahun setelah gempa dia masih belum bisa beraktivitas dengan lancar.

Namun kini dia sudah memulai lembaran baru, menjadi pengusaha keset dan bed cover kain perca.

“Saya itu tidak suka nganggur. Jadi meskipun di atas kursi roda ya tetap harus menghasilkan. Jadilah saya punya usaha keset dan bed cover kain perca” kata perempuan berjilbab itu.

Usahanya ini memang berjalan cukup sukses. Bahan yang digunakan adalah limbah kain penjahit.

Bicara bahan selalu saja ada yang mengantarkan, gratis. Namun ia mengaku tidak ingin diberikan gratisan.

“Saya punya usaha kalau bahannya gratisan ya jangan. Meskipun sudah tidak terpakai saya tetap akan beli meskipun harganya sangat murah” kata Wahyunigsih.

Bahan baku kain bekas ini disulapnya manjadi keset, tas, bed cover hingga gantungan kunci.

Untuk membuat satu barang ini dibutuhkan pengamatan dan kreativitas saja. Sebab tidak semua bahan sama ukurannya, dan jika tidak kreatif maka hasilnya akan monoton.

Dari bahan bekas ini, Wahyuningsih bisa menjulan keset kain perca dengan harga berkisar Rp30.000 hingga Rp40.000 per unitnya.

Sedangkan untuk bed cover ukuran 2 meter X 2,5 meter dijual dengan harga Rp175.000, dan untuk ukuran kecil Rp125.000.

“Kalau gantungan kunci kami jual Rp10.000 dapat tiga. Tas dan dompet kami jual sesuai dengan tingkat kesulitannya” ujarnya.

Bisnis Wahyunigsih ini kini berkembang, jika awalnya yang membeli hanya saudara dan teman saja, kini sudah ada pembeli yang biasa datang.

Mereka kadang membeli dengan jumlah yang cukup banyak. Tidak jarang dia kewalahan saat ada pesanan yang datang.

“Kalau pembeli selalu ada. Memang tidak langsung ambil berapa kodi tapi selalu saja mengalir rejekinya” pungkas Wahyuningsih.

Sumber : https://www.google.com/amp/s/m.solopos.com/kisah-inspiratif-korban-gempa-bumi-2006-ini-bangkit-dengan-usaha-kain-perca-647633/amp

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed