by

Kisah Inspiratif Bocah 12 Tahun Hafal 30 Juz Alquran

WATANABEEE – Semua orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi sosok-sosok yang cerdas dan berprestasi. Tak hanya soal iptek tapi juga dalam bidang agama.

Ada yang berhasil, namun tak sedikit pula yang gagal lantaran pola pengajaran yang salah.

Tapi tidak demikian halnya dengan Ahmad Najih Maulana (12), Pelajar kelas enam Sekolah Dasar (SD) Integral Lukman Al-Hakim Trenggalek, Jawa Timur ini mampu menghafal 30 juz Al Quran.

Najih, sapaan akrabnya, merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Kedua orangtua Najih, Muhammad Munir (45) dan Ula Rofiah (37) berprofesi sebagai tenaga pendidik.

Kedua orangtuanya pernah mengenyam pendidikan agama di salah satu pondok pesantren besar di kota yang berbeda.

Sang Ayah, Munir mengatakan, Najih mulai belajar membaca Al Quran sejak kelas satu SD. Selama lima tahun terakhir, Ia dan istrinya gigih membimbing Najih untuk belajar membaca Al Quran.

Setiap hari, Najih wajib membaca Al Quran usai shalat Subuh dan Maghrib. Jumlah halaman yang dibaca ditentukan secara bertahap, sampai akhirnya Najih terbiasa.

“Awalnya ya sulit, sampai nangis-nangis apalagi masih anak-anak, tapi setelah kami wajibkan membaca Al Quran, akhirnya terbiasa,” kata Munir.

Munir mengajarkan tanggung jawab kepada Najih.

“Kuncinya saya ajarkan untuk tanggung jawab. Setelah ia belajar tentang tanggung jawab, ia sudah terbiasa,” kata Munir.

Bocah berusia 12 tahun itu menyediakan waktu selama 20 menit sampai 30 menit untuk membaca Al Quran di rumah setiap hari. Sisanya, belajar membaca Al Quran dilanjutkan sesuai jadwal di sekolah.

Keberhasilan Najih menghafal 30 juz Al Quran bukan tanpa alasan. Najih terinspirasi dari sang ayah.

Munir mengenang sebuah momen saat Najih masih kecil. Ia dan anak sulungnya itu bercerita sambil bercanda di ruang tamu.

Ketika itu, Munir bertanya kepada Najih, apa yang hendak diberikan kepada kedua orangtuanya ketika sudah dewasa.

Saat itu, Najih menjawab akan memberikan uang dan barang berharga lain. Munir menanggapi jawaban anaknya, ia tak akan menerima semua hadiah itu.

Ia meminta anaknya menjadi hafiz ketika dewasa. Percakapan ringan itu ternyata membekas di benak Najih.

Ketika tasyakuran keberhasilan menghafal Al Quran digelar, Najih mempersembahkan keberhasilan itu kepada orangtuanya.

“Saya persembahkan kepada Ayah dan Ibu,” terang Munir menirukan Najih.

Munir mengaku terharu mendengar kalimat sang anak.

“Pada saat itu juga, mendengar kalimat yang diutarakan Najih, Kami berdua tak kuasa menahan haru,” kata Munir.

Sumber : Kompas dan Tribunnews

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed