by

Dulu Anak Jalanan, Kini Sukses Dirikan Pondok Al-Qur’an

WATANABEEE – Berawal dari kehidupan perih yang dijalaninya, Yopi Firmansyah (35), pemuda asal Lembang mewakafkan dirinya untuk membantu orang lain.

Cara yang ditempuhnya dengan mendirikan lembaga pendidikan Pondok Quran Yatim dan Duafa, Baitul Jannah untuk anak korban perceraian orang tua, yatim, dan dhuafa di Kampung Pageurmaneuh, Lembang.

Saat ditemui di Pondok Quran, Yopi mengungkapkan jika dirinya merupakan korban dari perceraian orang tuanya atau broken home saat kelas 2 SD. Tidak hanya itu, dirinya sempat mengenyam kerasnya jalanan saat mengamen di simpang Dago, Kota Bandung. 

“Saya juga dulu korban perceraian (orang tua) dan nggak nyaman dengan broken home serta korban bully. Saya juga dulu ngamen di simpang Dago dari SMA kelas 1 sampai kelas 2 hingga akhirnya saya gak tamat SMA,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, dia pun bercerita terpaksa berjualan asongan di objek wisata Tangkuban Perahu. Bahkan, pekerjaan-pekerjaan kasar pernah dilakoninya saat masa-masa dulu. 

Meski berada dilingkungan jalanan, Yopi mengaku sering datang ke acara-acara pengajian pada Kamis malam yang diselenggarakan oleh Daarut Tauhid di Gegerkalong. Dia sempat belajar agama tiga bulan di pesantren Nurul Huda, Nyalindung, Cikole. 

“Meski anak jalanan, saya senang ke Daarut Tauhid tahun 2000-an dan sering ke sana. Di sana saya dapat banyak pencerahan dan kisah-kisah yang banyak,” katanya. 

Sejak saat itu, tepatnya 2007 dia mengungkapkan mulai menulis buku motivasi secara otodidak. Dibantu pengeditan oleh temannya saat itu yang merupakan mahasiswa UIN. Berkat buku Kamu pasti bisa: Tujuh kunci Menggapai Cita-cita” yang ditulisnya yang kini masuk cetakan kelima membuat dirinya sering dipanggil menjadi pemateri motivasi

“Sejak saat itu, saya sering mengisi materi motivasi di sekolah-sekolah, radio, instansi seperti Dispora Bandung bahkan sempat mengisi acara ke tenaga kerja yang ada di Malaysia,” katanya. Profesi pemberi motivator menjadi kegiatannya kini sehari-hari. Dia pun mengaku senang membaca buku.

Di tengah perjalanan hidupnya yang kini mulai stabil dan maju, bapak dari lima anak ini merasakan kehampaan ketika hidup hanya untuk diri sendiri. Dia merasa lebih bahagia ketika berbagi terutama kepada orang yang berlatar belakang sepertinya.

“Saya akhirnya ngobrol dengan seorang ustaz berniat bikin pesantren. Beliau bilang dari mana modalnya. Saya bilang mengapa kita nggak ngontrak dulu,” katanya. Akhirnya sebuah bangunan bekas rumah makan dikontraknya dengan harga Rp 60 juta pertahun. 

Dia mengaku menggunakan dana tabungan pendidikan anaknya sebesar Rp 20 juta untuk membayar sebagian kontrakan. Sedangkan sisanya masih belum dibayarkan.

“Tadinya uangnya buat anak sekolah tapi akhirnya dibuat pondok dan anak saya belajar di sini,” katanya.

Dirinya akhirnya merekrut santri-santri korban perceraian orang tua, yatim dan duafa yang berada di Lembang secara gratis.

Katanya 30 orang menginap di pondok dan 60 orang lainnya ikut kegiatan pondok namun tidak menginap. Selain itu terdapat tujuh relawan pengajar yang dibayar seikhlasnya.
  
“Saya nggak mau, (santri-santri) korban perceraian mengalami seperti saya. Kena narkoba karena broken home. Ini ikhtiar saya agar anak-anak tidak ke jalanan dan hancur serta terjun ke dunia bebas. Saya merasakan banget (kerasnya jalanan) dan nggak mau melihat kondisi anak memprihatinkan,” katanya. 

Sumber : Republika

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed