by

Kisah Yvonne Ridley, Masuk Islam Setelah Jadi Tawanan Taliban

WATANABEEE – Yvonne Ridley, seorang wartawan asal Inggris, membagikan pengalamannya yang menakjubkan dalam menemukan kebenaran agama Islam.

Ridley menceritakan, pada awalnya ia berkenalan dengan Islam secara tidak terduga. Saat itu, ia harus berada dalam tahanan Taliban dengan tuduhan memasuki Afghanistan secara ilegal.

Ridley yang bekerja sebagai wartawan Sunday Express, surat kabar terbitan Inggris, diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik.

Perempuan kelahiran tahun 1959 ini mencoba menyusup ke Afghanistan secara ilegal, tanpa paspor maupun visa.

Ridley kemudian tertangkap di sebelah timur Kota Jalalabad. Penyamarannya terungkap ketika ia jatuh dari seekor keledai persis di depan seorang tentara Taliban dan kameranya jatuh.

Saat ditangkap, Ridley tengah mengenakan burqa, sejenis busana Muslimah tradisional Afghanistan.

Ketakutanpun mulai merayapi Ridley, ia mulai diinterogasi selama 10 hari tanpa diperbolehkan menggunakan telepon ataupun menghubungi anak perempuannya yang sedang berulang tahun ke-9.

Selama menjalani proses interogasi, Ridley mengaku tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh kaum Taliban ataupun apa yang mereka percayai sebagai ‘kebenaran’.

Bagi Ridley, Taliban saat itu sama seperti yang digambarkan media massa Eropa maupun Amerika bahwa kelompok Islam ini disebut sebagai teroris.

Namun, perlakuan yang diterima Ridley selama menjalani masa penahanan dan interogasi justru mengubah semua pandangannya mengenai orang-orang Taliban.

Menurutnya, anggapan umum bahwa Taliban yang selama ini digambarkan sebagai monster sangat jauh dari realitas. Ridley menilai bahwa orang-orang Taliban adalah orang-orang yang baik dan mereka sangat ramah.

Selama dirinya ditahan, secara fisik ia tak pernah diperlakukan dengan buruk oleh Taliban. Bahkan, perlakuan yang diterimanya tergolong cukup istimewa.

Di dalam tahanan, Ridley dipisahkan dengan penghuni lainnya, termasuk para tahanan wanita. Selain itu, secara khusus, ruang tahanannya telah dibersihkan dari segala gangguan kecoa dan kalajengking.

Suatu hari, selama penahanan tersebut, Ridley dikunjungi oleh seorang ulama yang bertanya kepadanya pendapat tentang Islam dan apakah ia ingin menjadi seorang Muslim.

Setelah berpikir dengan hati-hati, Ridley berterima kasih atas tawaran ulama tersebut. Ulama itu menurutnya tidak bersikap memaksa dan mengatakan sulit membuat keputusan karena dirinya sedang berada dalam tahanan.

Namun, dalam hati Ridley saat itu, ia berjanji akan mempelajari Islam jika dibebaskan dan kembali ke Inggris.

Beberapa hari kemudian atas dasar kemanusiaan, Ridley dibebaskan dengan aman dan tanpa satu lukapun atas perintah dari Mullah Omar, pemimpin Taliban.

Begitu kembali ke Inggris, Ridley memenuhi janjinya, ia mulai membaca Alquran melalui terjemahannya. Ia pun mencoba memahami pengalaman yang baru dilewatinya.

Untuk lebih mendalami agama Islam, Redley meminta nasihat dan saran dari beberapa akademisi Islam terkemuka, salah satunya Zaki Badawi.

Ia juga diberi beberapa buku oleh Sheikh Abu Hamza AI-Masri yang ditemuinya setelah berbagi platform di debat Oxford Union.

Setelah membaca Al-Qur’an, hatinya luluh dan takjub. Ia benar-benar takjub karena tak ada satu pun yang berubah dari isi Al-Qur’an ini, baik titik-titinya maupun yang lainnya sejak 1.400 tahun yang lalu.

Ketika mempelajari Islam, Ridley sangat mengagumi hak-hak yang diberikan Islam pada kaum perempuan dan inilah yang paling membuat dirinya tertarik pada Islam.

“Ini seharusnya seperti studi akademis, tetapi ketika menelaah tiap halamannya saya menjadi lebih tertarik dan terkesan dengan apa yang saya baca,” kata Ridley.

Dari sinilah Ridley memutuskan untuk memilih Islam sebagai keyakinan barunya. Proses keislaman Ridley ini terjadi pada tahun 2003 silam.

Mengenai pilihannya ini, Ridley mengungkapkan bahwa dirinya telah bergabung dengan apa yang ia anggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini.

Meski tidak ada paksaan untuk menjadi Muslim, namun Ridley harus menghadapi tekanan dari beberapa teman dan jurnalis, yang tidak suka dia memeluk agama Islam.

Ridley mengatakan bahwa beberapa temannya merasa tidak nyaman dengannya bukan karena sikap atau perbuatan buruk, namun hanya karena agama yang dianutnya saat ini.

“Anda akan mengira saya telah membuat perjanjian dengan iblis atau ingin menjadi penyihir agung di Ku Klux Klan,” ujar Ridley tentang pandangan orang-orang di sekitarnya.

Ridley juga mengatakan tak sedikit yang menduga dirinya telah dicuci otak. Pada kenyataannya banyak perempuan Muslim yang berpendidikan dan cerdas, bahkan menyadari peran politik.

“Al-Qur’an telah memperjelas semua Muslim, pria dan wanita sama-sama memiliki nilai, spiritualitas dan tanggung jawab,” kata Ridley.

Saat ini setelah memeluk Islam, Ridley telah memutuskan untuk mengenakan baju Muslim dan jilbab dan masih menjalankan profesinya sebagai seorang wartawan.

Sumber : Ar Rahmah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed