by

Cerita Syahadat Sang Mantan Pendeta

WATANABEEE – Yahya Waloni punya cerita tersendiri terkait keputusannya memeluk Islam.

Jauh sebelum dikenal sebagai penceramah, Yahya sebelumnya merupakan seorang mantan pendeta dan memiliki jabatan sebagai Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong.

Ketertarikan Yahya untuk masuk Islam, sebenarnya sudah ada sejak kecil, saat berumur sekitar 14 tahun.

Pada usia itu, dirinya sudah ke masjd karena tertarik melihat banyak orang islam menggunakan pakaian seperti yang digambarkan di agamanya yaitu baju ikhram.

Selain itu, dirinya pun sangat tertarik dengan gendang yang suka dimainkan di masjid-masjid.

“Hanya berani ke masjid satu kali saja karena ketahuan dan dipukul sampai babak belur oleh bapak saya. Kalau nekad ke masjid lagi, saya takut bapak saya yang seorang tentara akan menggantung saya” ujar Yahya.

Namun dari sekian kejadian yang mendorongnya untuk memeluk Islam adalah pengalaman spiritual yang dialaminya.

Suatu hari, Yahya mengaku bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lama kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli.

Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut dengan waktu pertemuan yang sama yaitu pukul 09.45 Wita.

Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, kata Yahya, dirinya berdialog panjang soal Islam. Anehnya, kata dia, si penjual ikan yang mengaku tidak lulus sekolah dasar (SD) itu sangat mahir dalam menceritakan soal Islam. Ia makin tertarik dengan Islam.

Namun, sejak pertemuan ketiga, ia tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu.

“Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, Desa Sandana, salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli. Saat saya datangi kampungnya, tidak ada satupun warganya yang menjual ikan dengan bersepeda” ujar Yahya.

Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing.

Yahya yang ingin memeluk Islam mendapat pertentangan dari sang Istri, Lusiana, yang ngotot untuk tidak memeluk Islam karena dipengaruhi oleh pendeta dan saudara-saudaranya.

“Ia tetap ingin bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. Jadi, kita memutuskan untuk bercerai” kata Yahya.

Namun tidak lama setelah itu, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriyah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita, ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara, dia di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu.

“Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar” kata Yahya.

Setelah dari itu, Yahya kemudian mengaku berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya.

Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam.

Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

“Setelah sadar, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu” ujarnya.

Setelah diceritakan ke istrinya, sang istri semakin tidak percaya dan ingin bercerai dengan Yahya.

Namun, beberapa jam kemudian, istrinya menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan.

“Akhirnya istri saya yang mengajak segera masuk Islam” katanya.

Bersama keluarga, Yahya memeluk Islam secara sah pada 11 Oktober 2006 di Sekretariat Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli.

Sumber : Retizen Republika

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed