by

Nafas Islam di Negeri Dewa-Dewi, Yunani

WATANABEEE – Islam di Yunani memang minoritas namun nafasnya memberi arti dalam berbagai sendi kehidupan di negara yang dijuluki negeri dewa-dewi itu.

Memiliki jumlah populasi Muslim mencapai 250 Ribu orang, Athena sebagai ibukota negara nyatanya baru memiliki masjid raya resmi pada tahun 2020 lalu.

Masjid yang diberi nama Votanikos atau Athens New Mosque ini menjadi Masjid pertama di Athena sejak merdeka dari Kekaisaran Ottoman 200 tahun silam.

Keberadaan masjid ini menandai berakhirnya status Athena sebagai satu-satunya ibukota di Eropa yang tidak memiliki masjid.  

Proyek pembangunan masjid sendiri telah dimulai sejak 2007 namun beberapa kali harus terhambat karena mendapat tentangan kuat dari Gereja Ortodoks yang berpengaruh, serta dari kelompok nasionalis.

Salah satu aktifis muslim yang aktif mendesak pemerintah terkait pembangunan masjid raya di Athena ini adalah Anna Stamo.

Anna merupakan seorang mualaf, ia adalah warga Athena asli yang memutuskan memeluk Islam setelah berkenalan dengan sang suami, Naim dari Mesir.

Sejak mendalami Islam, perempuan 40 Tahun ini menyadari bahwa Islam bukan sekedar agama namun pedoman hidup yang bisa membimbingnya mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bersama sang suami, Anna bergabung dalam Asosiasi Muslim Yunani yang turut andil dalam proyek pengajuan masjid resmi di Athena.

“Tujuan kami adalah sejajar dan mendapat keadilan, sama seperti warga negara lain, bukan menjadi warga yang tersisihkan”

“Kami berharap mendapat hak asasi manusia agar dapat beribadah kepada Tuhan kami dengan bebas tanpa banyak hambatan” kata Anna.

Tak hanya Masjid, Hijab juga masih menjadi masalah tersendiri bagi para muslimah di Yunani. Hijab masih dianggap sebagai hal yang aneh.

Namun lagi-lagi Anna Stamo bisa menjadi contoh dari keteguhan seorang muslim mempertahankan identitasnya.

Bagi Anna tidak ada yang bisa membuatnya melepaskan hijab. ia lebih memilih untuk takut kepada Allah dari pada mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang tidak memahami anjuran Islam untuk menutup aurat.

Menurutnya, ada salah anggapan publik Eropa yang menyamakan jilbab sebagai simbol penindasan atas kaum perempuan.

“Jilbab adalah masalah pilihan. Saya mendukung mereka yang memperjuangkan hak mereka untuk memakainya” kata Anna.

Sumber : Netmedia, detikNews dan Republika

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed